Di Fase Akhir Ramadan, Kenapa Justru Banyak Orang Mulai Lelah Ibadah?

Ramadan selalu dimulai dengan semangat yang menggebu. Di malam pertama, masjid dipenuhi jamaah, mushaf Al-Qur’an kembali dibuka, dan banyak orang bertekad menjadikan bulan ini sebagai titik balik spiritual. Suasana terasa hidup. Salat tarawih ramai, tadarus Al-Qur’an terdengar di berbagai sudut masjid, dan sedekah mengalir dengan penuh keikhlasan.

Namun perlahan, ketika Ramadan memasuki hari-hari terakhir, pemandangan itu sering berubah. Saf salat mulai renggang, semangat tadarus tidak lagi sekuat di awal, dan sebagian orang mulai merasa lelah menjalani rutinitas ibadah yang intens. Ironisnya, kelelahan itu justru datang di fase yang paling mulia dalam Ramadan. Padahal dalam pandangan Islam, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah puncak perjuangan seorang mukmin.

Rasulullah memberikan teladan yang sangat jelas tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi fase ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, disebutkan:

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Rasulullah apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Muhammad ibn Ismail al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan mengencangkan ikat pinggang adalah simbol kesungguhan dan totalitas dalam beribadah. Artinya, ketika banyak orang mulai melemah, Rasulullah justru meningkatkan kesungguhan ibadahnya.

Mengapa demikian?

Karena di dalam sepuluh malam terakhir terdapat satu malam yang sangat istimewa yakni Lailatul Qadar. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3)

Seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa besar. Inilah sebabnya para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali menyebut sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai fase perlombaan terakhir menuju kemenangan spiritual.

Lalu mengapa banyak orang justru mulai lelah pada fase ini?

Secara manusiawi, tubuh memang memiliki batas. Setelah hampir tiga minggu berpuasa, bekerja, dan menjalani ibadah malam, energi fisik bisa menurun. Selain itu, semangat di awal Ramadan sering kali didorong oleh suasana kolektif ramainya masjid, semaraknya kajian, dan antusiasme lingkungan. Ketika suasana itu mulai mereda, motivasi pun ikut menurun. Namun di sinilah letak ujian keikhlasan. Ketika ibadah tidak lagi didorong oleh euforia, tetapi oleh kesadaran iman yang tulus.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar tentang semangat sesaat, tetapi tentang ketekunan hingga akhir kehidupan. Ramadan seakan menjadi latihan spiritual untuk membangun ketahanan itu.

Dalam banyak riwayat juga disebutkan bahwa Ramadan memiliki tiga fase: rahmat di awal, ampunan di pertengahan, dan pembebasan dari api neraka di akhirnya. Bayangkan, ketika pintu pembebasan dari api neraka sedang dibuka lebar, justru sebagian orang berhenti di tengah jalan karena kelelahan. Padahal dalam setiap perjuangan, kemenangan sering kali berada di garis akhir.

Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah saat seorang mukmin diuji: apakah ia hanya kuat di awal, atau mampu bertahan hingga akhir (Istiqomah). Ketika tubuh terasa berat untuk bangun malam, tetapi hati tetap memaksa diri untuk berdoa, ketika mata mengantuk tetapi tetap membuka mushaf Al-Qur’an di situlah nilai perjuangan seorang hamba terlihat.

Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia adalah perjalanan spiritual untuk membersihkan hati, memohon ampunan, dan berharap diselamatkan dari api neraka. Dan sering kali, kemenangan terbesar justru dimenangkan oleh mereka yang tetap melangkah meski perlahan hingga garis akhir. Wallahu a’lam bis showab

Muhamad Imron

Koord. Spiritual Reg. Pantura  

Share