Jika di hari-hari biasa seseorang merasa jauh karena dosa, maka Ramadhan hadir sebagai undangan terbuka, dengan kata yang begitu teduh “kembalilah”. Bulan ini bukan hanya tentang puasa menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang pemurnian jiwa, pengampunan, dan kesempatan kedua.
Ramadhan adalah bulan maghfiroh. Ia datang bukan untuk orang-orang yang sudah suci, melainkan juga untuk mereka yang ingin disucikan. Justru mereka yang merasa paling banyak dosa sering kali paling merasakan makna Ramadhan. Saat adzan Maghrib berkumandang dan tangan terangkat berdo’a, ada harapan yang tumbuh “Ya Allah, terimalah aku kembali.” Dan Allah tidak pernah menolak hamba yang datang dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan.





