Sudahkah Kita Benar-Benar Menjadi Hamba yang Bersyukur?

Sudahkah Kita Benar-Benar Menjadi Hamba yang Bersyukur? Pernah nggak kita bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah saya benar-benar menjadi orang yang bersyukur?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Ketika mendapatkan gaji, rezeki, kesehatan, atau kabar baik, kita biasanya langsung mengucapkan Alhamdulillah. Tapi ternyata, menjadi orang yang bersyukur tidak berhenti hanya pada ucapan itu.

Syukur punya makna yang jauh lebih luas.

Dalam sebuah nasihat, KH M. Huda Nur Hakim mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar mengatakan Alhamdulillah atau mengucapkan terima kasih. Syukur juga berarti bagaimana kita menggunakan setiap nikmat yang Allah berikan untuk sesuatu yang baik dan untuk taat kepada Allah.

Contohnya adalah ketika menerima gaji.

Saat gaji masuk, tentu kita boleh dan bahkan sepatutnya mengucapkan Alhamdulillah. Namun, pertanyaannya kemudian adalah, gaji tersebut digunakan untuk apa?

Kalau digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membeli makanan dan pakaian yang layak, membayar kebutuhan sehari-hari, membantu orang lain, atau digunakan untuk kebaikan, maka nikmat tersebut telah diarahkan kepada sesuatu yang baik. ( Baca juga: Pulang Kerja dan Bingung Mau Makan Apa? Yuk, Mampir ke Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken! )

Sebaliknya, kalau uang yang didapat justru digunakan untuk hal-hal yang dilarang, ucapan Alhamdulillah saja tidak cukup untuk menunjukkan rasa syukur.

Dari sini kita bisa melihat bahwa syukur bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita menggunakan nikmat yang sudah diberikan.

Allah memberikan begitu banyak nikmat dalam kehidupan kita. Bahkan untuk menghitungnya satu per satu pun rasanya tidak mungkin.

Sudahkah Kita Benar-Benar Menjadi Hamba yang Bersyukur?

Harta memang menjadi salah satu nikmat yang sering kita syukuri. Namun, ada nikmat lain yang nilainya begitu besar, salah satunya adalah kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa bekerja, beraktivitas, berkumpul bersama keluarga, beribadah, dan melakukan banyak hal lainnya.

Karena itu, kesehatan juga perlu disyukuri dengan cara menjaganya dan menggunakannya untuk hal-hal yang baik.

Bagi yang sudah berkeluarga, rasa syukur juga bisa diwujudkan dengan menjalankan tanggung jawab kepada anak dan istri. Memberikan nafkah, menyediakan makanan dan minuman yang layak, pakaian yang menutup aurat, serta tempat tinggal yang layak merupakan bagian dari kewajiban yang harus diperhatikan.

Bahkan, dalam pembahasan tentang nafkah, disampaikan bahwa merokok bisa menjadi haram ketika seseorang sampai meninggalkan kewajiban utama menafkahi anak dan istrinya. Begitu juga ketika merokok di tempat yang memang sudah melarang aktivitas tersebut.

Artinya, menggunakan harta juga perlu dipikirkan dengan baik. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya bisa menjadi nikmat justru digunakan dengan cara yang tidak tepat.

Hal yang sama juga berlaku dalam pekerjaan.

Ketika seseorang sudah menerima gaji dari perusahaan, ada amanah yang ikut melekat di dalamnya. Maka bekerja dengan baik, menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, dan menjaga kepercayaan yang diberikan merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima.

Bekerja bukan hanya soal datang, menyelesaikan tugas, lalu menerima gaji. Ada tanggung jawab yang harus dijaga karena di balik penghasilan tersebut ada amanah.

Begitu juga dengan harta yang dimiliki. Harta tidak hanya dinikmati, tetapi juga perlu dibersihkan melalui zakat bagi yang sudah memenuhi syarat. Selain itu, kita juga diajak untuk menjadi pribadi yang gemar bersedekah dan tidak menjadi orang yang pelit.

Pada akhirnya, rasa syukur ternyata bisa hadir dalam banyak bentuk.

Bekerja dengan amanah adalah syukur. Menafkahi keluarga adalah syukur. Menggunakan rezeki untuk kebaikan adalah syukur. Bersedekah adalah syukur. Bahkan menggunakan kesehatan untuk beribadah dan melakukan hal-hal bermanfaat juga merupakan bentuk syukur.

Di tengah kesibukan bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari, kebersamaan sederhana seperti makan bersama teman, rekan kerja, atau keluarga juga menjadi salah satu hal yang layak disyukuri. Menikmati hidangan bersama di Ayam Geprek Sa’i maupun Hajj Chicken, misalnya, bukan sekadar soal mengisi perut, tetapi juga bisa menjadi momen untuk menikmati rezeki dan mempererat kebersamaan.

Maka, coba kita tanyakan lagi kepada diri sendiri.

Ketika Allah memberikan kita rezeki, kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan begitu banyak nikmat lainnya, sudahkah semuanya kita gunakan dengan cara yang benar?

Karena pada akhirnya, syukur bukan sekadar kata Alhamdulillah.

Syukur adalah bagaimana kita menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menjalankan amanah, dan memberikan manfaat bagi orang lain. ( Baca juga: Lagi Lapar Banget? Ini Kenapa Menu Ayam Sering Jadi Pilihan )

Narasumber: KH M. Huda Nur Hakim

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Sudahkah Kita Benar-Benar Menjadi Hamba yang Bersyukur?

Share