Dari Pada Beli Ferrari, Bos Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chciken Pilih Jalur Langit: Seni Menahan Diri di Tengah Gempuran Flexing – Zaman sekarang, kalau punya bisnis dengan cabang yang sudah tersebar di berbagai kota, kira-kira apa yang bakal terpajang di garasi rumah Anda? Kemungkinan besar jawabannya tidak jauh-jauh dari mobil sport eksotis, jam tangan miliaran, atau rumah gedongan dengan kolam renang pribadi. Di era di mana kesuksesan sering kali diukur dari apa yang kita flexing alias pamerkan di media sosial, kemewahan visual seolah menjadi validasi mutlak bahwa seseorang telah “sampai” di puncak kesuksesan.
Namun, cerita berbeda justru datang dari Erwan Barudi, sosok di balik gurita bisnis PT Ukhuwah Berkah Semesta yang menaungi brand Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Alih-alih hanyut dalam arus gaya hidup mewah para pengusaha sukses pada umumnya, ia justru memilih jalur yang berbeda total. Ada sebuah narasi menarik dari perjalanan bisnisnya, khususnya ketika ia menyinggung soal mobil super sekelas Ferrari dan Rubicon. Sebuah prinsip hidup yang rasanya seperti tamparan keras buat kita yang masih sering terjebak dalam perangkap konsumtif. ( Baca juga: Bukan Cuma Enak, Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken Juga Utamakan Kebersihan dan Kenyamanan Pelanggan )
Keinginan Itu Manusiawi, Tapi Kontrol Diri Itu Pilihan
Jujur saja, melihat kesuksesan Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chciken berkembang begitu pesat sampai memiliki cabang di mana-mana, Bapak Erwan Barudi mengaku bahwa secara manusiawi ia juga punya ego. Punya hasrat untuk diakui, pengin namanya naik, dan sempat terbersit pikiran untuk membeli mobil mewah seperti Rubicon atau Ferrari, lengkap dengan rumah mewah yang ada kolam renangnya.
Menurutnya, punya keinginan seperti itu sangatlah normal. Manusia mana yang tidak tergiur dengan kenyamanan dan status sosial yang ditawarkan oleh barang-barang luxury? Godaan duniawi itu nyata dan selalu menari-nari di depan mata, apalagi ketika isi rekening sudah lebih dari cukup untuk menebus semua mimpi itu dalam sekejap.
Tapi di sinilah letak pembeda antara pengusaha biasa dengan mereka yang punya jangkar spiritual yang kuat. Bapak Erwan memilih untuk tidak menuruti ego tersebut. Alih-alih membiarkan nafsunya mengambil alih kendali, ia justru menarik rem darurat dan memilih untuk menahan diri.
Dari Pada Beli Ferrari, Bos Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chciken Pilih Jalur Langit: Seni Menahan Diri di Tengah Gempuran Flexing
Pertanggungjawaban Berat di Balik Barang Mewah
Kenapa harus menahan diri kalau uangnya ada? Alasan utama yang mendasari keputusan ini adalah kesadaran penuh akan hakikat dunia dan konsep pertanggungjawaban di kehidupan setelah kematian.
Bagi Bapak Erwan, dunia ini bukan tempat tinggal yang abadi, melainkan cuma sebuah wahana sementara. Tempat bertanding untuk mengumpulkan amal-amal terbaik. Ia sangat memahami bahwa setiap harta yang masuk dan keluar dari dompetnya kelak akan dihitung secara detail. Memiliki barang-barang super mewah memang memberikan kepuasan instan di dunia, tapi pertanggungjawabannya di akhirat nanti bakal sangat berat.
Ketika seseorang membeli mobil mewah seharga miliaran rupiah hanya untuk kepuasan pribadi atau gengsi, ada ruang manfaat yang sebenarnya sedang “terpotong”. Dari sudut pandang inilah, Bapak Erwan melihat sebuah peluang yang jauh lebih besar dan menguntungkan untuk jangka panjang: investasi akhirat.
Memindahkan Garasi Ferrari ke Jalur Dakwah dan Sosial
Prinsip finansial yang diterapkan di Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chciken ini benar-benar unik. Daripada uang perusahaan atau keuntungan bisnisnya habis dipakai untuk membeli mainan mewah seperti Ferrari, Bapak Erwan Barudi memilih untuk mengalihkan dana tersebut secara masif ke sektor dakwah, pendidikan, dan sosial. Tidak tanggung-tanggung, alokasi anggaran untuk keperluan umat ini dipatok sebesar 35% dari total keuntungan bersih perusahaan.
Bayangkan saja, jika dalam satu bulan bisnisnya bisa menghasilkan keuntungan bersih miliaran rupiah, maka ratusan juta dari keuntungan itu langsung otomatis mengalir untuk membiayai kegiatan dakwah, menyantuni aspek sosial, hingga membiayai pendidikan.
Uang yang tadinya bisa berwujud sebuah mobil sport yang nongkrong di garasi rumah pribadinya, kini sengaja diubah bentuknya menjadi fasilitas sekolah gratis di pesantren atau sekolah Islam Terpadu (IT) bagi anak-anak karyawannya. Langkah ini ia lakukan sebagai bentuk ikhtiar nyata untuk memotong generasi, agar anak-anak dari para pekerjanya bisa mendapatkan pendidikan agama dan umum yang layak, sehingga kelak mereka bisa tumbuh menjadi pejuang-pejuang masyarakat yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara spiritual.
Seni Menikmati Hidup Lewat Berbagi
Banyak orang mengira bahwa menjadi kaya berarti bisa memiliki segalanya untuk diri sendiri. Tapi bagi manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, kebahagiaan tertinggi justru terletak pada “nikmatnya berbagi”. Bapak Erwan bahkan dengan santai berseloroh bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa menjadi orang yang kaya raya sendirian, karena semua keuntungannya sengaja dibagi-bagi lagi ke karyawan dalam bentuk bonus, fasilitas sosial, hingga subsidi susu bagi istri karyawan yang baru melahirkan.
Melalui narasi Ferrari ini, kita diajak untuk merenungkan kembali esensi dari kesuksesan finansial yang sesungguhnya. Menjadi kaya itu baik, bahkan sangat dianjurkan agar kita bisa memberikan dampak yang luas. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar harta tersebut hanya berhenti di tangan, bukan masuk dan merasuki hati. ( Baca juga: Pelayanan Ramah dan Cepat Jadi Alasan Banyak Pelanggan Betah di Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken )
Bapak Erwan Barudi sudah membuktikan bahwa kemewahan sejati tidak perlu divalidasi lewat raungan mesin mobil sport di jalanan. Kepuasan hidup yang paling kekal justru lahir saat kita mampu mengubah potensi kemewahan pribadi menjadi mesin pencetak manfaat yang tidak pernah berhenti berputar bagi orang banyak. Jadi, bagaimana dengan kita? Masih sibuk mengejar “Ferrari” versi kita sendiri, atau sudah mulai membangun jalur manfaat untuk sesama? Dari Pada Beli Ferrari, Bos Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chciken Pilih Jalur Langit: Seni Menahan Diri di Tengah Gempuran Flexing
Narasumber: H Erwan Barudi
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
Source: Youtube PecahTelur




