Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Namun, apa sebenarnya hakikat cinta kepada Rasulullah ﷺ? Apakah cinta cukup diwujudkan dengan perasaan dan ungkapan di lisan, ataukah ia memiliki tanda-tanda yang harus tercermin dalam kehidupan?
Imam Qadhi Iyadh (w. 544 H) dalam karya monumentalnya asy-Syifa bi Ta‘rifi Huquqil Musthafa menjelaskan makna cinta kepada Nabi ﷺ dengan mengutip berbagai pandangan ulama.
Salah satunya adalah perkataan Sufyan ats-Tsauri:
المَحَبَّةُ اتِّبَاعُ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَأَنَّهُ الْتَفَتَ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
“Cinta adalah mengikuti Rasulullah ﷺ.” Seakan-akan Sufyan ats-Tsauri sedang memperhatikan firman Allah: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.’” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Dari sini dapat dipahami bahwa cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar perasaan yang bersemayam di dalam hati. Cinta sejati melahirkan sikap mengikuti, menaati, menghormati, dan berusaha meneladani beliau.
Makna Cinta kepada Nabi ﷺ
Qadhi Iyadh juga menyebutkan beberapa ungkapan ulama tentang cinta kepada Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah meyakini pertolongan beliau, membela dan mengagungkan sunnahnya, tunduk terhadap ajarannya serta merasa berat untuk menyelisihinya. Cinta juga berarti senantiasa mengingat orang yang dicintai, mendahulukan apa yang ia cintai, serta adanya kecenderungan hati kepada segala sesuatu yang selaras dengan kecintaan tersebut.
Menurut Qadhi Iyadh, beragam definisi itu sebenarnya tidak menunjukkan adanya pertentangan dalam hakikat cinta. Perbedaan tersebut lebih banyak menggambarkan keadaan, tanda, dan buah dari cinta. Dengan kata lain, para ulama menjelaskan cinta melalui berbagai tanda dan pengaruh yang tampak pada diri seseorang yang mencintai.
Adapun hakikat cinta itu sendiri adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dianggap baik dan sesuai dengannya.
Secara umum, kecintaan manusia dapat muncul karena beberapa sebab.
Pertama, karena adanya keindahan dan kenikmatan. Manusia secara alami mencintai sesuatu yang indah dan menyenangkan, seperti paras yang rupawan, suara yang merdu, makanan yang lezat, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Kedua, karena adanya kemuliaan yang dapat dirasakan oleh akal dan hati. Karena itu, seseorang dapat mencintai ulama, orang-orang saleh, dan mereka yang dikenal memiliki akhlak serta perilaku yang luhur.
Ketiga, karena kebaikan yang diterima. Secara naluriah, manusia mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, menolongnya, menjaganya, atau memberikan manfaat kepadanya.
Semua Sebab Kecintaan Itu Ada pada Diri Rasulullah ﷺ
Jika kita renungkan, seluruh sebab kecintaan tersebut terkumpul secara sempurna dalam diri Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau memiliki keindahan rupa sekaligus kesempurnaan akhlak. Beliau adalah sosok yang paling mulia, paling lembut, paling penyayang, dan paling banyak memberikan kebaikan kepada umatnya.
Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, dia sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang mukmin dia sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128).
Nabi ﷺ bukan hanya berbuat baik dalam urusan dunia, tetapi menunjukkan jalan menuju keselamatan yang abadi. Melalui beliau, manusia mengenal Allah, mengetahui jalan hidayah, memahami kebenaran, dan mengetahui jalan menuju kebahagiaan dunia serta akhirat.
Beliau adalah pembawa petunjuk, pembimbing menuju keselamatan, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Lantas, kebaikan apa yang lebih besar daripada kebaikan beliau kepada umatnya?
Seseorang mungkin mencintai orang lain karena pernah diberi bantuan, diselamatkan dari suatu bahaya, atau mendapatkan manfaat darinya. Namun semua kebaikan duniawi tersebut pada akhirnya akan berakhir.
Adapun Rasulullah ﷺ menunjukkan kepada umatnya jalan menuju kenikmatan yang tidak pernah berakhir: keselamatan dari neraka dan kebahagiaan di surga.
Karena itu, beliau jauh lebih berhak untuk dicintai daripada siapa pun yang pernah memberikan kebaikan kepada kita dalam urusan dunia.
Cinta yang Melahirkan Ketundukan
Cinta kepada Nabi ﷺ tidak berhenti pada kekaguman. Ia harus melahirkan ketundukan kepada ajarannya, kecintaan kepada sunnahnya, dan keinginan untuk meneladani akhlaknya.
Semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin besar pula cintanya kepada beliau.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menggambarkan kewibawaan dan daya tarik pribadi Rasulullah ﷺ dengan berkata:
مَنْ رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ، وَمَنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أَحَبَّهُ
“Siapa yang melihat beliau secara tiba-tiba akan merasa segan kepadanya, dan siapa yang bergaul serta mengenalnya lebih dekat, niscaya akan mencintainya.”
Inilah salah satu keistimewaan Rasulullah ﷺ. Orang yang sekadar melihat beliau dapat merasakan kewibawaannya, sedangkan orang yang mengenal akhlak, kelembutan, kasih sayang, dan keindahan pribadinya akan semakin mencintai beliau.
Para sahabat bahkan dikenal begitu dalam mencintai Rasulullah ﷺ sehingga mereka sangat menjaga pandangan dan perhatian mereka kepada beliau karena besarnya rasa cinta dan penghormatan.
Buah dari Cinta kepada Nabi ﷺ
Dari penjelasan Qadhi Iyadh, kita dapat memahami bahwa cinta kepada Nabi ﷺ memiliki tanda yang nyata.
Cinta bukan sekadar memperbanyak ucapan tentang beliau, tetapi juga berusaha mengikuti sunnahnya. Bukan hanya merasa bangga menyebut namanya, tetapi juga berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan. Bukan hanya mengagungkan beliau dengan lisan, tetapi juga mendahulukan petunjuk beliau daripada hawa nafsu dan keinginan pribadi.
Semakin kuat cinta seseorang kepada Nabi ﷺ, semakin kuat pula keinginannya untuk mengikuti beliau.
Maka, hakikat cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah ketika hati merasa dekat kepada beliau, lisan senang bershalawat kepadanya, akal mengagungkan ajarannya, dan anggota badan berusaha mengikuti sunnah serta akhlaknya.
Semoga Allah ﷻ memenuhi hati kita dengan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, menjadikan kita orang-orang yang benar-benar mengikuti sunnahnya, menghiasi diri dengan akhlaknya, memperbanyak shalawat kepadanya, dan kelak mengumpulkan kita bersama beliau di surga.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالاجْتِمَاعَ بِهِ فِي الْجَنَّةِ
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ, kemampuan untuk mengikuti sunnahnya, dan kesempatan untuk berkumpul bersamanya di dalam surga.”
Wallāhu a‘lam.
Kontributor: Ustadz Opik Taopikurohman




