Jangan Merasa Masuk Surga Hanya karena Jabatan, Kebaikan Kecil Pun Bisa Jadi Jalan – Kebaikan tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang besar. Tidak harus menunggu punya banyak uang, punya jabatan tinggi, atau dikenal sebagai orang terpandang. Bahkan, hal sederhana yang sering dianggap sepele bisa menjadi bagian dari amal yang bernilai di hadapan Allah.
Pesan itulah yang disampaikan Kyai Imam Mukhlas saat membahas tentang makna kebaikan, sedekah, dan bekal menuju akhirat.
Allah sudah mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 215:
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).’ Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Q.S. Al-Baqarah: 215)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kebaikan tidak berhenti pada soal seberapa banyak harta yang dikeluarkan. Setiap kebaikan yang dilakukan manusia diketahui oleh Allah.
Hal yang sama juga ditegaskan dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Q.S. Az-Zalzalah: 7–8)
Karena itu, jangan sampai seseorang merasa bahwa jalan menuju surga hanya terbuka bagi orang-orang tertentu. Misalnya mereka yang memiliki jabatan tinggi, dianggap terpandang, atau dikenal sebagai tokoh agama. ( Baca juga: Hajj Chicken & Ayam Geprek Sa’i Salurkan Donasi Rp425 Juta untuk Dukung Kemanusiaan di Palestina )
Dalam kehidupan, status sosial bukanlah ukuran utama seseorang di hadapan Allah. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta terus berusaha melakukan kebaikan.
Kyai Imam Mukhlas mengingatkan bahwa sedekah pun tidak selalu identik dengan mengeluarkan uang. Ada banyak bentuk kebaikan yang bisa dilakukan siapa saja, termasuk orang yang sedang tidak memiliki kemampuan secara materi.
Mengucapkan Alhamdulillah, Subhanallah, dan Allahu Akbar bisa menjadi bagian dari amal kebaikan. Dalam penjelasan beliau, bagi orang yang ingin memperbanyak amalan ketika belum mampu bersedekah dengan harta, dzikir seperti Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar juga bisa diamalkan. Jika masih terasa berat, seseorang tetap bisa melakukan kebaikan lain, seperti mengajak kepada yang baik dan mencegah kemungkaran.
Jangan Merasa Masuk Surga Hanya karena Jabatan, Kebaikan Kecil Pun Bisa Jadi Jalan
Bahkan, menjalankan shalat dhuha minimal dua rakaat juga menjadi salah satu bentuk amalan yang bisa dilakukan.
Artinya, tidak ada alasan untuk merasa tidak bisa berbuat baik hanya karena tidak punya uang.
Kebaikan juga bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Menyingkirkan batu, kayu, atau sesuatu yang mengganggu orang lain di jalan mungkin terlihat sepele. Namun, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Justru dari hal-hal sederhana seperti itulah seseorang bisa mendapatkan nilai kebaikan yang tidak pernah ia sangka.
Ada pula kisah yang menggambarkan bagaimana kasih sayang kepada makhluk hidup bisa menjadi jalan datangnya ampunan Allah. Dalam hadis, diceritakan seseorang yang melihat seekor anjing kehausan di dekat sumur. Ia kemudian mengambil air dan memberikan minum kepada anjing tersebut. Karena kebaikan itu, Allah memberikan ampunan kepadanya.
Pesannya sederhana: berbuat baik tidak harus menunggu menjadi orang kaya.
Senyum pun bisa menjadi sedekah. Membantu orang lain bisa menjadi sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang lain bisa menjadi sedekah. Menolong makhluk hidup juga merupakan bentuk kebaikan.
Di sisi lain, Kyai Imam Mukhlas juga mengingatkan agar seseorang tidak tertipu hanya oleh penampilan atau status. Ada orang yang terlihat sebagai tokoh agama, tetapi justru menyalahgunakan kepercayaan dan mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain. Jabatan, penampilan, maupun sebutan tidak akan menjadi jaminan jika seseorang berbuat zalim.
Karena itu, bekal menuju akhirat harus terus dicari sebanyak-banyaknya. Caranya bukan dengan mengejar status, tetapi dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Manusia juga diajak menjadi ulil albab, yaitu orang yang mau menggunakan akal dan pikirannya. Sebab, manusia tidak hanya diberi otak, tetapi juga kemampuan untuk berpikir, memahami, dan mengambil pelajaran.
Pada akhirnya, jalan menuju surga bukan tentang siapa yang paling tinggi kedudukannya di mata manusia. Bukan pula tentang siapa yang paling terkenal atau paling terpandang.
Allah memberikan rahmat-Nya melalui iman, amal, ketakwaan, dan kebaikan yang terus diusahakan.
Maka, jangan menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik. Jangan menunggu punya jabatan untuk bermanfaat. Dan jangan merasa kebaikan kecil tidak berarti.
Sebab, bisa jadi justru kebaikan sederhana yang dilakukan dengan tulus itulah yang menjadi salah satu bekal berharga untuk kehidupan setelah dunia. ( Baca juga: Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken Bersama AMAL Salurkan 368 Paket Hot Meals untuk Warga Gaza Utara )
Narasumber: Kyai Imam Mukhlas
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
Jangan Merasa Masuk Surga Hanya karena Jabatan, Kebaikan Kecil Pun Bisa Jadi Jalan




