Yoyakarta – Pengajian Office yang rutin diselenggarakan oleh PT Ukhuwah Berkah Semesta selaku Manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken kembali menghadirkan banyak pelajaran berharga bagi seluruh keluarga besar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026 di kediaman Bapak Rizki Surya, Staff Processing sekaligus Shohibul Bait bulan ini, menjadi momen untuk memperkuat keimanan sekaligus merefleksikan kembali hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Salah satu materi yang begitu menyentuh disampaikan oleh Bapak Erwan Barudi, Direktur Utama PT Ukhuwah Berkah Semesta (Manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken). Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk bertanya kepada diri sendiri, siapa yang sebenarnya paling kita cintai dalam hidup ini?
Beliau membuka materi dengan mengutip makna Surah Al-Baqarah ayat 165, yang menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang mencintai selain Allah sebagaimana mereka mencintai Allah. Sementara itu, orang-orang yang beriman memiliki kecintaan yang jauh lebih besar kepada Allah SWT.
“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).” (Q.S Al-Baqarah 165)
Pesan ini mengingatkan bahwa cinta kepada Allah bukan sekadar diucapkan, tetapi harus terlihat dalam sikap, pilihan, dan kebiasaan sehari-hari. ( Baca juga: Belajar dari Perang Uhud: Jangan Sampai Semangat Beribadah Kalah dengan Urusan Dunia )
Jangan Sampai Hati Kita Diam-Diam Lebih Mencintai Dunia daripada Allah
Ketika Dunia Diam-Diam Menjadi yang Paling Dicintai
Menurut Bapak Erwan, bentuk “sesembahan” di zaman sekarang tidak selalu berupa berhala. Tanpa disadari, seseorang bisa lebih mencintai hawa nafsu, ego, jabatan, harta, kenyamanan, atau urusan dunia hingga mengalahkan cintanya kepada Allah.
Contohnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika diajak bangun untuk salat Subuh berjamaah di masjid, terasa begitu berat. Tidur lebih awal agar mudah bangun Subuh pun sering kali ditunda karena merasa masih ingin bermain gawai, menonton, atau melakukan hal-hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, bisa jadi bukan karena kita tidak mampu beribadah, melainkan karena hati mulai lebih mengikuti keinginan diri sendiri daripada panggilan Allah.
Padahal, semua kenikmatan dunia hanyalah titipan. Kelak di akhirat, orang-orang yang selama hidupnya lebih mengutamakan selain Allah akan menyadari bahwa apa yang mereka agungkan tidak mampu memberikan pertolongan sedikit pun. Pada saat itulah mereka mengetahui bahwa seluruh kekuatan, pertolongan, dan kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.
Cinta kepada Allah Harus Dibuktikan dengan Amal
Bapak Erwan mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada doa semata. Berdoa memang penting, tetapi rasa cinta kepada Allah juga perlu diwujudkan melalui amal ibadah yang nyata.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mulai menambah amalan sunnah secara bertahap. Tidak harus langsung banyak, tetapi dimulai sesuai kemampuan dan dilakukan secara konsisten.
Beliau menyampaikan beberapa amalan yang bisa dibiasakan, di antaranya:
- Salat Tahajud.
- Salat Dhuha.
- Salat Qabliyah, terutama sebelum Subuh.
- Salat Isyraq (Suruq).
- Salat Tahiyatul Masjid.
- Serta berbagai salat sunnah lainnya yang dianjurkan dalam Islam.
Bagi yang masih merasa berat, beliau mengingatkan agar tidak langsung menyerah. Mulailah dari langkah kecil. Jika belum mampu melaksanakannya secara rutin, cobalah membiasakan diri sedikit demi sedikit. Yang terpenting adalah terus menumbuhkan semangat untuk semakin dekat kepada Allah.
Selain salat sunnah, beliau juga mengingatkan pentingnya meluangkan waktu setiap malam untuk membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Jangan sampai hari-hari kita berlalu tanpa ada rasa rindu untuk berinteraksi dengan kalam Allah.
“Jangan sampai kita merasa tidak punya rasa kangen kepada Allah,” menjadi salah satu pesan yang begitu mengena dalam tausiyah tersebut.
Jangan Menunggu Ibadah Sempurna Baru Mau Memulai
Di akhir penyampaiannya, Bapak Erwan menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi banyak orang. Tidak sedikit yang menunda beribadah karena merasa belum bisa khusyuk atau terlalu sibuk memikirkan hal-hal lain.
Padahal, menurut beliau, yang paling penting adalah mendirikan salat terlebih dahulu. Soal khusyuk, itu adalah proses yang terus diperbaiki. Jangan sampai seseorang justru meninggalkan salat karena merasa ibadahnya belum sempurna.
Beliau juga mengingatkan agar tidak mudah menghakimi imam salat. Memang benar, imam sebaiknya memiliki bacaan yang baik dan fasih. Namun, ketika suatu saat kita mendapatkan imam yang bacaannya belum sempurna, jangan sampai hati sibuk menilai dan menghakiminya.
Sikap seperti itu justru dapat merusak kualitas iman, mengurangi kekhusyukan dalam salat, bahkan mengurangi pahala yang seharusnya kita dapatkan. Fokus utama seorang makmum adalah memperbaiki ibadahnya sendiri, bukan mencari kekurangan orang lain.
Menumbuhkan Cinta kepada Allah dalam Setiap Langkah
Tausiyah yang disampaikan Bapak Erwan menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah bukan hanya tentang ucapan, tetapi tentang pilihan yang kita ambil setiap hari. Saat Allah memanggil melalui azan, apakah kita segera memenuhi panggilan-Nya? Saat memiliki waktu luang, apakah kita menyempatkan diri membaca Al-Qur’an? Dan ketika diberi kesempatan beramal, apakah kita melakukannya dengan ikhlas?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi bahan renungan bagi seluruh peserta Pengajian Office.
Melalui kegiatan rutin ini, PT Ukhuwah Berkah Semesta terus berupaya membangun lingkungan kerja yang tidak hanya mengejar target dan produktivitas, tetapi juga memperkuat hubungan setiap insan perusahaan dengan Allah SWT. Harapannya, nilai-nilai tersebut dapat tercermin dalam semangat bekerja, sikap melayani, dan kebersamaan seluruh keluarga besar perusahaan, sehingga Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken tidak hanya dikenal karena cita rasa produknya, tetapi juga karena budaya Islami yang tumbuh dan dijaga dalam setiap langkah perjalanannya. ( Baca juga: Jangan Terlalu Resah dengan Masa Depan, Perbaiki Dulu Kualitas Sholat dan Dekatkan Diri kepada Al-Qur’an )
Narasumber: H Erwan Barudi
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
Jangan Sampai Hati Kita Diam-Diam Lebih Mencintai Dunia daripada Allah



