Karyawan di Hajj Chicken Itu Bagaikan “Dititipkan” ke Daycare Tapi Isinya Belajar Ngaji dan Digaji

Karyawan di Hajj Chicken Itu Bagaikan “Dititipkan” ke Daycare Tapi Isinya Belajar Ngaji dan Digaji – Kalau biasanya kata daycare identik dengan tempat penitipan anak, di Hajj Chicken istilah ini punya makna yang sedikit berbeda dan justru bikin banyak orang penasaran.

Bukan tempat untuk “dititipkan” dalam arti sebenarnya, tapi lebih ke gambaran bagaimana karyawan di sini dibina, diarahkan, dan dikembangkan. Bedanya, kalau di daycare anak-anak belajar hal dasar, di sini para karyawan justru mendapatkan bekal yang jauh lebih dalam: ilmu agama, khususnya belajar membaca Al-Qur’an, tanpa melupakan hak utama mereka sebagai pekerja yaitu tetap mendapatkan gaji.

Bukan Sekadar Tempat Kerja, Tapi Tempat Belajar

Hajj Chicken memang dikenal sebagai salah satu brand kuliner ayam geprek yang punya ciri khas kuat, terutama pada sambal koreknya yang pedas dan “nendang”. Tapi di balik itu, ada hal lain yang membuat brand ini berbeda dari kebanyakan tempat makan pada umumnya.

Di lingkungan internalnya, Hajj Chickenpunya komitmen untuk menghadirkan suasana kerja yang tidak hanya fokus pada operasional, tapi juga pada pengembangan diri karyawan—terutama dalam hal spiritual.

Setiap karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an. Bahkan, bagi yang sama sekali belum bisa membaca huruf hijaiyah, tidak perlu merasa minder atau malu.

Semua dimulai dari nol.

Dari Iqra 1 Sampai Lancar Membaca Al-Qur’an

Program pembelajaran ini bukan sekadar formalitas. Karyawan yang belum bisa mengaji akan benar-benar dibimbing secara bertahap, mulai dari Iqra 1 hingga mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar.

Prosesnya dilakukan dengan pendekatan yang santai tapi serius:

  • Belajar mengenal huruf hijaiyah satu per satu
  • Memahami cara pengucapan yang benar
  • Hingga mengenal hukum bacaan (tajwid) secara bertahap

Yang menarik, proses belajar ini tidak hanya dibimbing oleh tim khusus seperti area spiritual, tapi juga oleh sesama karyawan yang sudah lebih dulu fasih membaca Al-Qur’an.

Jadi suasananya terasa lebih akrab, saling mendukung, dan jauh dari kesan menghakimi.

Lingkungan yang Bikin Nyaman dan Percaya Diri

Salah satu tantangan terbesar bagi banyak orang dewasa adalah rasa malu ketika belum bisa membaca Al-Qur’an. Tidak sedikit yang akhirnya memilih diam dan tidak belajar sama sekali.

Di Hajj Chicken, stigma itu perlahan hilang.

Karena hampir semua orang memahami bahwa setiap karyawan datang dari latar belakang yang berbeda, proses belajar pun dibuat inklusif. Tidak ada yang direndahkan, tidak ada yang dibanding-bandingkan.

Sebaliknya, semua dirangkul.

Hasilnya? Banyak karyawan yang awalnya belum bisa mengaji, sekarang justru merasa bangga karena sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Bahkan ada yang menjadikan momen ini sebagai titik awal perubahan dalam hidup mereka. ( Baca juga : Bukan Cuma Ayam Geprek, Ternyata Hajj Chicken Punya Menu Favorit Orang Indonesia )

Belajar Jalan, Gaji Tetap Aman

Menariknya lagi, semua proses pembelajaran ini tidak menghilangkan status mereka sebagai karyawan.

Artinya, mereka tetap bekerja, tetap mendapatkan pengalaman, dan tentu saja tetap menerima gaji sesuai dengan posisi masing-masing—baik itu part time, trainer, maupun pegawai tetap.

Kombinasi antara bekerja dan belajar inilah yang membuat banyak orang melihat Hajj Chicken sebagai tempat kerja yang “beda”.

Bukan hanya cari penghasilan, tapi juga dapat bekal kehidupan.

Budaya Positif yang Terasa Sampai ke Pelanggan

Lingkungan kerja yang positif biasanya tidak berhenti di dalam saja—tapi juga terasa sampai ke pelanggan.

Pelayanan yang ramah, suasana yang nyaman, dan energi positif dari para karyawan menjadi nilai tambah yang tidak selalu bisa ditemukan di tempat lain.

Mungkin ini juga yang membuat banyak pelanggan merasa betah dan akhirnya kembali lagi.

Ditambah lagi dengan menu andalan seperti ayam geprek dengan sambal korek khas yang pedasnya nampol, pengalaman makan jadi semakin lengkap.

Lebih dari Sekadar Ayam Geprek

Hajj Chicken bukan hanya soal makanan enak. Brand ini pelan-pelan membangun identitas sebagai tempat yang punya nilai lebih—baik untuk pelanggan maupun untuk karyawannya.

Di satu sisi, pelanggan mendapatkan hidangan yang konsisten dan memuaskan.
Di sisi lain, karyawan mendapatkan ruang untuk berkembang, bukan hanya secara profesional, tapi juga secara personal dan spiritual. ( Baca juga : Bisa Ngaji Setelah Kerja di Hajj Chicken,Tempat Kerja yang Bukan Sekadar Cari Nafkah )

Penutup: Sudah Pernah Coba?

Dengan konsep yang unik dan pendekatan yang berbeda, tidak heran kalau Hajj Chicken semakin dikenal luas oleh masyarakat.

Kalau kamu belum pernah coba, mungkin sekarang saat yang tepat untuk merasakan sendiri:

  • Seberapa “nendang” sambal koreknya
  • Seberapa nyaman suasananya
  • Dan kenapa banyak orang akhirnya jadi pelanggan setia

Yuk, cari cabang Hajj Chicken terdekat di kotamu dan buktikan sendiri kenapa brand ini terus berkembang dan disukai banyak orang! Karyawan di Hajj Chicken Itu Bagaikan “Dititipkan” ke Daycare Tapi Isinya Belajar Ngaji dan Digaji.

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Share