Sudah Mengaji dan Sholat, Tapi Sudahkah Ilmunya Diamalkan?

Yogyakarta – Mengaji dan membaca Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Begitu juga dengan sholat yang menjadi kewajiban setiap hari. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: setelah rajin mengaji dan sholat, sudahkah ilmu yang kita dapat benar-benar diamalkan?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam pengajian store PT Ukhuwah Berkah Semesta, manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PT Ukhuwah Berkah Semesta, Bapak Haji Erwan Barudi, mengajak seluruh jamaah untuk tidak berhenti pada aktivitas mengaji dan memahami ilmu, tetapi juga membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang perlu terus dijaga dan diamalkan: gemar mengaji, menegakkan sholat, dan mengamalkan hasil dari ilmu yang sudah dipelajari. ( Baca juga: Bukan Soal Kaya, Ini 9 Ciri Orang yang Disebut Beruntung Menurut Al-Qur’an )

1. Jangan Jauh dari Al-Qur’an

Hal pertama yang ditekankan adalah membiasakan diri untuk mengaji dan membaca Al-Qur’an.

Mengaji bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika ada pengajian store atau kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, membaca dan mempelajari Al-Qur’an seharusnya menjadi kebiasaan yang terus dijaga.

Sebab, semakin sering seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin banyak pula ilmu dan pengingat yang bisa didapatkan untuk menjalani kehidupan.

Bagi keluarga besar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, kebiasaan mengaji juga menjadi salah satu cara untuk terus membangun lingkungan kerja yang tidak hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga memiliki nilai dan kebiasaan positif.

2. Sholat Jangan Sampai Lalai

Hal kedua adalah menegakkan sholat.

Bapak Haji Erwan mengajak jamaah untuk tidak hanya memikirkan sholat ketika waktu adzan sudah tiba. Lebih dari itu, setiap orang perlu terus memikirkan bagaimana kualitas sholatnya bisa semakin baik.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah berusaha memahami apa yang dibaca ketika sholat. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa benar-benar menikmati sholat jika bacaan yang diucapkan setiap hari tidak dipahami maknanya?

Ada hal menarik yang disampaikan sebagai bahan renungan. Saat ini umat Islam hanya perlu menjalankan sholat lima waktu dalam sehari. Namun, dalam praktiknya masih banyak yang lalai atau menunda-nunda.

Bandingkan dengan kebiasaan kita menggunakan HP. Membuka HP bisa dilakukan berkali-kali dalam sehari, bahkan tanpa menghitung berapa lama waktunya. Notifikasi sedikit saja bisa langsung membuat tangan refleks mengambil HP.

Sudah Mengaji dan Sholat, Tapi Sudahkah Ilmunya Diamalkan?

Lalu, bagaimana dengan sholat?

Pesan ini menjadi pengingat agar jangan sampai perhatian kita kepada hal-hal duniawi justru jauh lebih besar daripada perhatian kepada ibadah.

Sholat berjamaah di masjid juga menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kebiasaan tersebut. Karena yang perlu diperbaiki bukan hanya kuantitas sholat, tetapi juga kualitasnya agar hikmah dari sholat benar-benar terasa dalam kehidupan.

3. Ilmu Jangan Berhenti Jadi Teori

Bagian ketiga menjadi pesan yang tidak kalah penting: hasil mengaji harus diamalkan.

Menurut Bapak Haji Erwan, pada dasarnya banyak orang memiliki hati yang baik. Banyak yang tahu bahwa marah itu tidak baik, memaafkan itu lebih baik, membantu orang lain itu baik, dan bersikap adil adalah sebuah kewajiban.

Masalahnya, mengetahui kebaikan dan melakukan kebaikan adalah dua hal yang berbeda.

Jangan sampai ilmu yang didapat hanya berhenti menjadi teori. Misalnya, kita sudah tahu pentingnya menahan amarah, tetapi ketika menghadapi masalah justru mudah meledak. Kita tahu memaafkan itu baik, tetapi masih sulit melupakan kesalahan orang lain.

Karena itu, ilmu harus mulai terlihat dalam perilaku sehari-hari.

Dari Adil, Naik ke Ihsan

Dalam kehidupan kerja, nilai tersebut juga bisa diterapkan. Sebagai karyawan, kita perlu memiliki sifat adil dalam menjalankan tanggung jawab. Namun, jangan berhenti di sana.

Ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ihsan.

Artinya, pekerjaan tidak hanya dilakukan karena kewajiban atau karena ada yang mengawasi. Lebih dari itu, kita berusaha memberikan yang terbaik karena sadar bahwa setiap pekerjaan memiliki nilai dan akan memberikan dampak kepada orang lain.

Di lingkungan Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, misalnya, pekerjaan satu orang bisa memberikan pengaruh kepada banyak orang lainnya. Pelayanan yang baik membuat pelanggan nyaman, makanan yang diproses dengan baik memberikan kepuasan, dan pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh ikut menjaga nama baik perusahaan.

Pada akhirnya, hasil kerja yang baik bukan hanya untuk diri sendiri. Ada orang lain yang ikut merasakan manfaatnya.

Itulah mengapa mengaji, sholat, dan bekerja seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Ilmu membentuk cara berpikir, sholat membentuk hati dan perilaku, sementara amal membuktikan bahwa ilmu tersebut benar-benar hidup dalam diri kita.

Melalui pengajian store yang rutin diadakan, PT Ukhuwah Berkah Semesta terus memberikan ruang bagi keluarga besar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken untuk belajar dan melakukan refleksi bersama.

Sebab, menjadi pribadi yang lebih baik bukan tentang seberapa banyak ilmu yang sudah kita dengar, tetapi tentang seberapa banyak ilmu tersebut yang benar-benar kita bawa ke dalam kehidupan. ( Baca juga: Sudah Rajin Sholat, Tapi Sudahkah Kita Menjadi Orang Beriman? )

Narasumber: Haji Erwan Barudi – Direktur Utama PT Ukhuwah Berkah Semesta

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Sudah Mengaji dan Sholat, Tapi Sudahkah Ilmunya Diamalkan?

Share