Masih ingatkah dengan rumusan awal sila pertama pancasila ?
Tepatnya tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan sila Ketuhanan yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat itu dikenal dengan “Piagam Jakarta”.
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Negara dengan mayoritas umat muslim terbesar di dunia. Sehingga kerap muncul perdebatan, kenapa tidak syariat Islam saja yang menjadi dasarnya negaranya.
Pancasila memang bukan syariat, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lekat dengan syariat. Mengingat keberadaannya yang senapas dengan niali-nilai syariat ini, maka Pancasila bisa juga dikatakan nota kesepahaman yang Islami. Hal ini bisa dibuktikan dengan nilai yang terkandung pada tiap silanya.
Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan landasan teologis dari negara Indonesia. Dalam konteks syariat nilai ini sejalan dengan nilai tauhid yang tertuang dalam
ُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Artinya. “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.
Sila pertama ini bersifat menjiwai keempat sila lainnya. Nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, dipandang mampu mewadahi semua etnis, suku, dan golongan yang terdapat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagaimana korelasinya dengan ramadhan ? Jika kita cermati secara seksama, Ramadhan dan Pancasila memiliki hubungan harmonis yang saling menguatkan. Ramadhan atau puasa disadari atau tidak merupakan wujud praktis pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Pelaksanaan Ibadah puasa adalah bentuk keimanan, ketaqwaan dan ketaqwaan mutlak seorang kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa (sejalan dengan esensi Ketuhanan pada sila 1). Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), ramadhan mengajarkan kesalehan sosial. Berbagi takjil, sedekah, zakat mencerminkan nilai kemanusiaan, beradab, dan peduli sesama.
Sila ke-3 (Persatuan Indonesia), tercermin dalam berbagai tradisi buka bersama, tarawih berjamaah, dan silaturahim saat lebaran. Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat…), dengan puasa seorang muslim dituntut untuk melatih diri menahan hawa nafsu dan emosi. Hall ini sejalan dengan perilaku bijak, pengendalian diri, dan bermusyawarah/dewasa dalam bersikap.
Terakhir, sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia), pelaksanaan zakat (fitrah/mal) dan sedekah adalah wujud nyata pemerataan ekonomi, membantu yang membutuhkan, dan keadilan sosial. Ramadhan adalah momentum pembentukan karakter manusia Indonesia yang “Pancasilais”, beriman, dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia.
Muhamad Imron
Koord. Spiritual Reg. Pantura





