Cara Mendapatkan Ketenangan Hati Menurut H. Erwan Barudi

Gaji Ada, Teman Ada, Aktivitas Padat… Tapi Kenapa Hati Tetap Tidak Tenang?

Pernah merasa hidup sebenarnya baik-baik saja, tapi hati tetap ramai?

Kerjaan jalan. Circle ada. Aktivitas padat. Kadang bahkan target hidup juga mulai tercapai. Tapi entah kenapa, tetap ada rasa gelisah, capek mental, gampang cemas, dan sulit benar-benar menikmati hidup.

Fenomena ini banyak dirasakan anak muda hari ini. Di tengah dunia yang serba cepat, penuh tuntutan, dan budaya comparison tanpa henti, banyak orang sibuk mengejar “cukup”, tapi lupa mencari “tenang”.

Dalam pengajian rutin PT UBS tanggal 13 Mei 2026, H. Erwan Barudi mengingatkan bahwa sebenarnya manusia tidak sedang kekurangan banyak hal—tetapi sering kali kehilangan koneksi dengan sumber ketenangan itu sendiri: Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca juga: Mensyukuri Nikmat Al-Qur’an)

Beliau membuka kajian dengan ayat yang sangat relevan untuk kehidupan hari ini:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin.”
(QS. Al-Fath: 4)

Pesannya sederhana tapi dalam:
yang kita cari selama ini mungkin bukan solusi hidup yang lebih rumit, tapi hati yang lebih dekat dengan Allah.


Semua Orang Ingin Tenang, Tapi Tidak Semua Mencari di Tempat yang Tepat

Menurut H. Erwan Barudi, inti hidup sebenarnya sederhana: manusia mencari ketenangan.

Bukan sekadar uang, jabatan, rumah, kendaraan, atau validasi sosial.

Karena faktanya, banyak orang sudah punya semua itu tapi tetap tidak bisa tidur nyenyak.

Ada yang panik saat dipanggil urusan pajak, tagihan, target kerja, atau masalah ekonomi. Tapi ketika dipanggil azan, justru merasa biasa saja.

Di sinilah letak masalahnya.

Sering kali manusia lebih takut kehilangan urusan dunia dibanding kehilangan kedekatan dengan Allah.

Padahal, kata beliau, kalau seseorang benar-benar menghadirkan Allah dalam hidupnya, maka ciri paling jelas yang muncul adalah: tenang.


Dekat dengan Allah Itu Bukan Wacana, Tapi Kebiasaan Harian

Ketenangan tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari rutinitas spiritual.

Jaga salat dengan serius

Salat bukan sekadar kewajiban formal.

Ia adalah titik pause di tengah hidup yang chaos.

Saat hidup mulai terasa berat, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan strategi hidup, tapi kualitas sujud.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)

Salat yang dijaga bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tapi juga menata ulang hati dan akhlak.


Punya waktu khusus untuk Al-Qur’an

H. Erwan Barudi juga menekankan pentingnya interaksi rutin dengan Al-Qur’an.

Bukan menunggu sempat, tapi memang menyediakan waktu.

Karena banyak orang ingin hidupnya tenang, tapi tidak memberi waktu untuk sumber ketenangan.

Mulai sederhana:

  • 1–2 halaman setelah Subuh
  • membaca sebelum Maghrib
  • tadabbur singkat sebelum tidur

Tidak perlu langsung banyak. Yang penting rutin.

“Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tapi dihidupkan dalam keseharian.”


Overthinking Masa Depan Hanya Akan Menguras Energi

Anak muda hari ini sering terjebak dalam kecemasan masa depan.

Belum punya rumah, khawatir.
Belum menikah, overthinking.
Lihat teman sukses duluan, makin insecure.

Menurut H. Erwan Barudi, ini terjadi karena kita terlalu sibuk menghitung masa depan sampai lupa menerima takdir hari ini.

Ikhtiar tetap penting. Tapi hasil akhir bukan wilayah kita.

Yang harus dilakukan:

  • usaha maksimal,
  • hati tetap lapang,
  • dan ridha pada qada serta qadar Allah.

Takdir Allah hari ini bukan kesalahan. Bisa jadi justru bentuk perlindungan terbaik untuk kita.


Bersyukur: Skill yang Sering Diremehkan

Kadang kita terlalu fokus pada apa yang belum ada.

Padahal nikmat yang sudah ada justru tak terhitung.

Masih sehat.
Masih bisa bernapas gratis.
Masih punya pekerjaan.
Masih bisa berkumpul dengan orang baik.

Menurut beliau, kalau manusia benar-benar sadar betapa banyak nikmat Allah, mungkin ruang untuk mengeluh akan jauh berkurang.

Semakin besar syukur, semakin kecil ruang bagi resah.


Sedekah dan Kebaikan Kecil Menenangkan Jiwa

Tidak harus kaya untuk mulai berbagi.

H. Erwan Barudi mencontohkan bahwa nilai sedekah bukan sekadar nominal, tapi persentase pengorbanan dan keikhlasan.

Kadang justru saat kondisi pas-pasan, sedekah menjadi bukti keimanan paling nyata.

Karena saat memberi dalam keterbatasan, kita sedang melatih percaya penuh kepada Allah.


Hati Tenang Itu Buah dari Iman yang Dirawat

Iman tidak bisa dibiarkan hidup sendiri.

Ia harus dijaga, dipelihara, dan terus diisi.

Lewat:

  • salat yang terjaga,
  • Qur’an yang rutin dibaca,
  • syukur yang diperbesar,
  • serta hati yang ridha pada takdir Allah.

“Ketenangan bukan saat masalah hilang, tapi saat hati yakin Allah tetap bersama kita.”


Saatnya Evaluasi Diri

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki hidup di luar, tapi lupa memperbaiki isi hati.

Padahal dunia tidak akan pernah benar-benar sepi dari masalah.

Yang perlu dibangun bukan hidup tanpa ujian, tapi hati yang kuat menghadapinya.

Mulai dari hari ini:

  • perbaiki salat,
  • tambah interaksi dengan Al-Qur’an,
  • kurangi comparison,
  • jaga circle,
  • perbanyak syukur dan sedekah.

Karena pada akhirnya, yang paling mahal dalam hidup bukan pencapaian—tapi hati yang tenang.


Pertanyaan untuk diri sendiri:

Sudahkah hari ini kita memberi waktu khusus untuk Allah?

Kalau belum, mungkin itu jawaban dari gelisah yang selama ini belum terjelaskan. (Baca juga: Work Life Balance dalam Islam)

Narasumber : H Erwan Barudi

Kontributor : Rafi’I MKT

Share